Saturday, November 27, 2010

Lovely ChemEng

Terkadang kita tidak sadar akan nikmat yang sudah diberikan pada kita.. Mungkin seperti inilah kondisi saya beberapa waktu yang lalu.. Begitu banyak peristiwa yang sudah saya lalui di teknik kimia ini, bersama para keluarga Eksister tercinta. Saat-saat penat tak jarang datang menghampiri kami. Penat yang dengan mudahnya dipersembahkan pada kami melalui laporan praktikum, proposal, tugas-tugas kuliah, dan sebagainya. (yang terkadang hal sepele pun jadi terasa berat karenanya)

Ketika kondisi kejiwaan dan fisik saya sudah benar-benar "saturated", saya kembali teringat masa-masa setelah ujian Nasional SMA waktu itu..

Saya saat itu sama sekali tidak punya arah tujuan, akan melanjutkan sekolah dimana. Beberapa guru dan tante-om saya, seriiiing sekali mengatakan, "Udah, masuk kedokteran aja! Nanti pasti kalo udah lulus, penghasilan terjamin!"

Jujur! Saya sama kurang tertarik untuk masuk fakultas kedokteran. Saya menolak dengan halus tiap ada saran yang semacam itu. Memang, nantinya jika sudah lulus, penghasilan seorang dokter akan terjamin. Tapi saya mempunyai alasan "alibi" yang cukup kuat untuk mempertimbangkan kembali...
  1. Bukankah untuk menjadi seorang dokter itu butuh biaya yang "lebih"? Haruskah saya membebani orang tua saya lebih dari ini, sedangkan saya masih punya dua orang adik, yang sebentar lagi juga akan lulus SMA, dan yang satu lagi masih SD.
  2. Saya bukan tipikal orang yang rajin dan SUKA belajar. Ditambah lagi, ketika SMA, saya jarang sekali mengulang pelajaran sepulang sekolah. Sistem belajar saya: Yang penting mendengarkan dan mengerti ketika guru menerangkan di kelas. (padahal di kelas pun ketika merasa bosan dengan pelajaran, saya pasti akan asyik sendiri dengan kertas bekas, dan pensil saya, coratt-correettt!! *that's my hobby)
  3. Saya bukan tipikal orang yang punya ingatan kuat. Terbukti, saya sering lupa meletakkan handphone dimana, lupa mau melakukan apa, dan sering melupakan bahan pelajaran yang sudah diujikan. Bagaimana saya bisa jadi dokter yang baik? Bisa-bisa kalau ada pasien datang berobat, saya ijin dulu pada mereka, "Sebentar ya Bu, Pak. Saya cari dulu di diktat saya mengenai penyakit dan obat untuk Anda.." (NGEEEKKK!! Dokter macam apa itu?)
  4. Membayangkan tebalnya buku-buku diktat kedokteran, saya tidak mau mengambil resiko macam-macam dengan ingatan saya yang kurang bisa diandalkan ini.
  5. Saya bukan tipikal orang yang bisa 'perhatian' atau 'care' terhadap orang yang sakit.
  6. Sejak SD, saya kurang menyukai pelajaran Biologi, yang hafalannya bejibun. Saya lebih menyukai pelajaran yang hafalannya sedikit, dan banyak menghitung, seperti matematika atau fisika.
  7. Bagi saya menjadi dokter artinya bertanggungjawab atas keselamatan nyawa orang lain (pasien). Kalau terjadi salah diagnosis, atau salah obat... siap-siap saja menanggung akibat dan dosanya. Sekali lagi, resiko ini membuat mundur.
  8. Intinya dokter bukanlah profesi yang saya ingin geluti.
NB: pendapat di atas adalah pendapat pribadi saya, sama sekali tidak ada maksud menyinggung atau semacamnya.

Berdasar pertimbangan di atas, dan setelah konsultasi dengan beberapa orang, ditambah dengan membaca beberapa buku panduan universitas pemberian tante saya, saya mencari jurusan yang sesuai dengan kemampuan dan minat saya, dan pilihan saya jatuh pada dua jurusan: Teknologi Informatika, dan Teknik Kimia.

Formulir PSSB yang diberikan oleh pihak sekolah, akhirnya saya isi dengan mantap. TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS DIPONEGORO, setelah melalui diskusi panjang dengan teman sekelas saya yang juga ingin mengajukan PSSB ke jurusan yang sama. Beberapa bulan saya menunggu, dan tidak ada kabar, yang saya tafsirkan sebagai "TIDAK DITERIMA". Mungkin karena nilai biologi saya yang agak orange-orange seperti matahari terbenam..

"Ah, masih ada jalan lain untuk masuk ke Tekim!" pikir saya. Dan saya memutuskan untuk mengikuti Ujian Masuk di Undip, dengan pilihan pertama Teknik Kimia. Dan... gagal... saya tidak diterima. Bahkan pilihan kedua saya juga gagal.
Dua kali kegagalan untuk masuk ke jurusan yang sama membuat saya berpikir saat itu, "Ya sudah, mungkin memang bukan rezeki saya sekolah di teknik kimia undip. Mungkin ini jalan yang terbaik."

Kemudian, saya mencoba mendaftar di jurusan T.Informatika di sebuah universitas swasta. Memang kampusnya tergolong jauh dari rumah. Tapi mau bagaimana lagi? Saya hanya bisa berharap, semoga lingkungan disana baik, dan bisa membuat saya betah. Alhamdulillah, saya diterima, dengan ujian penerimaan yang katanya hanya formalitas semata.

Para guru saya sebenarnya menyayangkan pilihan yang saya ambil, kenapa tidak masuk kedokteran saja. "Lha teknik kimia aja nggak diterima, kok, Bu/Pak! Gimana mau masuk kedokteran?" saya hanya tertawa.

Saat itu saya sudah benar-benar pasrah, dan mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan TI dalam kuliah matrikulasi... Benar-benar sudah tidak berniat untuk mencoba teknik kimia lewat UM2 yang katanya biayanya dahsyatt.

Beberapa minggu setelah matrikulasi kuliah, saya diajak oleh sahabat karib saya untuk menemaninya ikut ujian SNMPTN. Sahabat saya yang satu ini punya minat menggambar, dan ingin masuk jurusan arsitek, tapi kedua orangtuanya punya keinginan yang berbeda, "kedokteran" (lagiiii??!) Mau tak mau, sahabat saya menulis jurusan yang diminatinya di pilihan ke-2, setelah kedokteran. Sementara saya kembali mencoba Teknik Kimia Undip di pilihan pertama. (NB: saat itu saya sama sekali tidak berharap banyak untuk diterima. Toh, saya sudah diterima di TI.)

Beberapa hari setelah ujian, salah seorang guru saya berkata dengan tujuan menggoda, "Tak doakan, semoga SNMPTN nya keterima. Biar kamu bingung.. Hayo! Nek keterima pilih sing ndi?" dengan logat nya yang lucu. Saya cuma menjawab, "Ya, dipikir nanti lah, pak. Kalo beneran udah keterima baru bingung-bingung. Saya juga nggak terlalu berharap kok."

Nah lo... orang bilang, guru adalah orangtua kita di sekolah. Orang lain lagi bilang, doa orangtua untuk anaknya itu peluang terkabulnya besar loh!... Dan itu terjadi pada sayaaaaaaaaa. Doa beliau terkabul, saya benar-benar diterima di teknik kimia lewat jalur SNMPTN.

Saya yang sudah cukup mengenal lingkungan kampus TI, merasa bimbang dan takut. Apakah saya akan tetap disini? Atau pindah ke teknik kimia, dengan lingkungan yang benar-benar asing, dan belum tentu senyaman TI?

Kedua orangtua saya menyerahkan pengambilan keputusan pada saya, dan mereka hanya memberi saran, "Dhek, kalau komputer kan bisa dipelajari lewat kursus, jadi mungkin ada baiknya kalo kamu ambil teknik kimia aja."

Setelah beberapa saat berpikir dan merenung (nggak lupa tahajud), saya memutuskan untuk mundur dari TI, dan menyiapkan pendaftaran ulang untuk Tekim. Saat saya mengajukan pengunduran diri dari TI, seorang staff pengajaran di TI bercerita, "Keponakan saya itu juga masuk teknik kimia, sekarang sudah lulus, dan malah kerjanya nggak nyambung sama teknik kimia. Dia sekarang buka usaha reparasi komputer. Ada juga yang lulus teknik kimia dan malah buka counter hape."

Reaksi saya: "Ha-ha (tertawa hambar).. Iya, pak.. mungkin emang rejeki mereka begitu.."

Saat itu saya benar-benar bingung, dan hanya berdoa semoga ini benar-benar jalan yang terbaik yang diberikan Allah untuk saya.

Sekian kali mencoba, saya gagal. Dan sekarang berhasil setelah mencoba untuk yang ke-3 kalinya. Hidup saya yang selama ini lancar-lancar saja mulai bergelombang dan berbatu disini. Selama ini saya kadang berpikir bahwa hidup saya lancar-lancar saja dibandingkan teman-teman saya yang lain, yang tak jarang mengeluh dan menangis karena berbagai masalah besar. Sedangkan saya, begitu cengeng hanya karena masalah kecil yang membuat saya sakit hati. Dan saat itu saya baru pertama kali merasakan bagaimana sebuah perjuangan, bagaimana rasanya gagal, bagaimana rasanya harus memilih antara dua jalan, bagaimana rasanya mengalami secuil problem kehidupan.

Saya hanya bisa meyakini bahwa ini pilihan terbaik yang diberikan untuk saya, supaya saya bisa mulai belajar menghadapi kehidupan...

Dan sekarang saya benar-benar bersyukur telah memilih jalan ini... Disini saya menemukan teman-teman yang tidak akan pernah saya temui jika saya mengambil jalan yang satunya. Disini saya menemukan keluarga yang bisa saya cintai. Disini saya mendapatkan banyak pengalaman berharga yang diberikan oleh keluarga EKSIS dan para kakak yang mengajarkan kami tentang banyak hal. Disini, di TeKim ini, saya mendapatkan ilmu menakjubkan yang membuat saya tertegun dan menjadi lebih tertarik pada dunia. Disini, di TeKim ini, saya menemukan kehidupan yang bisa saya syukuri.

Thx to Allah SWT..
Thx to all of you..

2 comments:

nitttnottt said...

iraaaaaaaaaaaa... muaaachh!!!!!

D.Wirasanti said...

ninitttt, muachh juga!!!